Baby Hello Kitty"), auto;}

create name

Profesional Nurse

"Tidak ada satupun di dunia ini, yang bisa di dapat dengan mudah. Kerja keras dan doa adalah cara untuk mempermudahnya."

Sabtu, 20 April 2013

HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR RESIKO KOMPLIKASI DENGAN ANGKA KEJADIAN FLEBITIS PADA PASIEN YANG MEMAKAI INFUS DI RUMAH SAKIT STROKE NASIONAL (RSSN) BUKITTINGGI TAHUN 2008



Abstrak
Flebitis adalah inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia ataupun mekanik. Hal ini dikarakteristik dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah penusukan atau sepanjang vena, dan pembengkakan. Pemasangan infus yang tidak sesuai dengan standar akan menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi antara lain terjadinya flebitis, beban cairan berlebih, perdarahan, dan infeksi.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan factor-faktor resiko terjadinya komplikasi lokal (flebitis) pada pasien yang menggunakan infus di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi tahun 2008. Penelitian ini dilakukan dengan desain analisis deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 36 orang responden (pasien dan perawat), pasien yang dirawat dan mendapatkan terapi intra vena (infus) di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 3 Maret s/d 15 Maret 2008
Hasil penelitian 77.8% dari responden yang memakai infus di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi  mengalami komplikasi (flebitis), 86,1 % responden tidak melakukan persiapan alat infuse yang lengkap, 83,3 % responden tidak sesuai cara kerja pemasangan infuse pada pasien, 88,9% responden tidak melakukan perawatan infuse pada pasien, berdasarkan uji  Chi Squer e dengan derajat kesehatan p< 0.05 didapatkan hubungan yang bermakna antara persiapan alat dengan kejadian feblitis dengan nilai p=0.005 dan OR=0,037, didapatkan hubungan yang bermakna antara cara kerja pemasangan infuse dengan kejadian feblitis dengan nilai p=0.014 dan OR=0.077, hubungan yang bermakna antara perawatan infuse dengan kejadian feblitis dengan nilai p= 0.028 dan OR=0.06

1.         PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Pelayanan kesehatan yang dilakukan perawat untuk meningkatkan derajat kesehatan tidak luput dari peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, ada tiga tindakan yang dilakukan perawat yaitu:
Tindakan independen, merupakan tindakan yang dilakukan secara mandiri oleh perawat dan tidak tergantung pada orang lain.
Tindakan dependen, merupakan tindakan perawat dalam melakukan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain, misal dari perawat ahli kepada perawat biasa.
Tindakan interdependen, merupakan tindakan yang dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan lainnya seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mempunyai penyakit komplek. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.
Pemasangan infus merupakan tugas perawat dalam menjalankan fungsi tindakan interdependen sebagai seorang perawat (Hidayat, 2007: 32).
Perawat dirumah sakit sangat berperan untuk mencegah agar pasiennya terbebas dari penyakit yang dideritanya, salah satu peran perawat dirumah sakit terhadap pasien yang pasang infus adalah agar tidak terjadi komplikasi ketika dan selama pemasangan infus.
Pemasangan infus merupakan salah satu prosedur invasif dengan memasukkan jarum steril kedalam jaringan tubuh untuk mendapatkan akses vena guna memulai dan mempertahankan terapi cairan Intra Vena, Indikasi infus ini dilakukan pada pasien dengan dehidrasi, pasien sebelum transfusi darah, pasien pasca bedah sesuai dengan program pengobatan, pasien yang tidak bisa makan dan minum melalui mulut, pasien yang memerlukan pengobatan dengan infus. Teknik steril harus dipertahankan karena klien beresiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit (Perry & Potter , 2000: 539).
Pemasangan infus yang tidak sesuai dengan standar akan menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi antara lain terjadinya flebitis, beban cairan berlebih, perdarahan, dan infeksi. Infeksi yang terkait dengan pemberiaan infus disebabkan oleh kontaminasi system intravena, tempat fungsi vena, atau larutan sendiri (Perry & Potter, 2006: 1665).
Perawat bertanggung jawab menyediakan lingkungan yang aman bagi klien. Keefektifan kontrol infeksi bergantung pada sifat dan konsistensi dalam menggunakan teknik aseptik, dan perawatan berkala agar tidak menimbulkan komplikasi pada pasien yang mendapatkan terapi intra vena (infus).
Yang terpenting dari tindakan yang dilakukan kepada klien bagi seorang perawat adalah apabila standar tindakan dan perawatan sudah diikuti dengan benar maka kemungkinan resiko bagi klien dapat dihindari (Perry & Potter, 2006: 996).
Flebitis adalah inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia ataupun mekanik. Hal ini dikarakteristik dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah penusukan atau sepanjang vena, dan pembengkakan. Insiden flebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intra vena, komposisi cairan atau obat yang di infuskan (terutama pH dan kekentalannya), ukuran dan tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur intra vena yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme pada saat penusukan. Berdasarkan data pendokumentasian yang dilakukan oleh ruangan neurologi diperoleh data pasien yang pasang infus di ruang neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional pada bulan April sampai dengan Juli 2007 sebanyak 76 orang, dengan angka kejadian flebitis sebanyak 26 orang (34.21%). Dari hasil survei peneliti sendiri pada tanggal 26 – 31 Januari 2008 didapatkan data sebagai berikut, pasien yang mendapatkan terapi intra vena sebanyak 17 orang setelah di observasi selama lima hari ditemukan pasien yang mengalami komplikasi flebitis sebanyak 7 orang (41.48%), dengan pelaksanaan SOP pemasangan infus oleh perawat sebesar 85% dilakukan dari keseluruhan item yang terdapat pada SOP pemasangan infus yang telah ditetapkan.
Dari data diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitiaan tentang factor-faktor resiko terjadinya komplikasi lokal (flebitis) pada pasien yang menggunakan infus di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi tahun 2008.

1.2       Tujuan Penelitian
1.2.1 Tujuan Umum
          Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor resiko komplikasi dengan angka kejadian flebitis pada pasien yang memakai infus di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi tahun 2008.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Diketahui distribusi frekuensi persiapan alat pemasangan infus.
2. Diketahui distribusi frekuensi cara kerja/tindakan pemasangan infus.
3. Diketahui distribusi frekuensi perawatan infus.
4. Diketahui distribusi frekuensi kejadian flebitis pada pasien yang memakai infus.
5. Mengetahui adanya hubungan antara persiapan alat pemasangan infus terhadap terjadinya flebitis.
6. Mengetahui adanya hubungan antara cara kerja/tindakan pemasangan infus terhadap terjadinya flebitis.
7. Mengetahui adanya hubungan antara perawatan infus terhadap terjadinya flebitis.

2.            TAHAP PENELITIAN
      Jenis penelitian ini adalah Deskriptif Analitik, yaitu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian feblitis pada pasien yang terpasang infuse di  di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi. Sedangkan desain penelitiannya adalah dengan pendekatan Crossectional, yaitu variabel independen dan variabel dependen  dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan dan hasilnya dapat memberikan hubungan antara dua variabel tersebut (Notoatmodjo, 2005).
Sampel yang akan digunakan adalah perawat yang melakukan tindakan pemasangan infus beserta klien yang dipasang/memakai  infus dan dirawat di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi, dengan kriteria sebagai berikut:
Perawat
1. Bertugas di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi.
2. Bersedia menjadi responden.
3. Tidak dalam keadaan cuti.
4. Berada di lokasi saat penelitian.
Klien
1. Klien yang mendapatkan terapi infus (NaCl 0.9%, Ringer Laktat, dekstrose 5%, dan KA-EN 3B) di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi.
2. Bersedia menjadi responden.
 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Accidental Sampling yaitu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan kebetulan bertemu atau tersedia (Notoatmojo,2005). Yaitu berdasarkan lama waktu penelitian selama 1 bulan di mulai dari tanggal 11 Maret - 8 April 2010 didapatkan jumlah responden sebanyak 36 pasang (perawat dan pasien)
Sebelum pengumpulan data dan penelitian sebelumnya peneliti melakukan uji coba kuesioner terlebih dahulu kepada responden berdasarkan atas pertanyaan yang akan di tanyakan sekaligus secara observasi kepada responden. Setelah proses itu selesai peneliti kemudian melakukan penelitian langsung kepada responden. Peneliti mengobservasi secara langsung persiapan alat, cara kerja, serta perawatan infus  dalam hal upaya pencegahan terjadinya Flebitis, Lembaran observasi diisi langsung dan diolah oleh peneliti, jumlah item observasi adalah 35 item. Kritikal point yang dimaksud adalah item yang dapat diabaikan  Karakteristik dari flebitis itu ditandai dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah penusukan atau sepanjang vena, dan pembengkakan, yang dilakukan oleh peneliti sebanyak 4 kali observasi dalam 4 hari untuk setiap orang responden, dengan alat ukur berupa format cheklis yang telah disusun dan dikelompokan dalam kategori-kategori sebagai berikut, Persiapan alat yang mana terdiri dari 10 item, cara kerja berjumlah 16 item, perawatan infus terdiri atas 5 item, dan flebitis terdiri atas 4 item.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi non partisipasi dan mengamati langsung sambil mengobservasi responden dalam pelaksanaan tindakan infus sebanyak 4 kali observasi dalam 4 hari untuk setiap orang responden dengan memakai system cheklis, dimana setiap tindakan yang dilakukan oleh responden dicheklis “Ya” dan begitu pula sebaliknya tindakan yang tidak dilakukan dicheklis “Tidak”, setelah itu data yang didapatkan dideskripsikan dengan menggunakan skala yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini untuk melihat hubungan tersebut dilakukan perhitungan statistik yang menggunakan uji Chi-square (x2), dengan derajat kepercayaan (α) 0.05%.
Jika probabilitas hasil uji Chi-square P value < 0.05 maka dikatakan bermakna dan demikian pula sebaliknya bila P value > 0.05.
Hasil analisa hubungan persiapan alat terhadap terjadinya flebitis diperoleh bahwa ada sebanyak 27 (87.1%) responden yang persiapan alatnya tidak lengkap mengalami flebitis, sedangkan diantara responden yang persiapan alatnya sudah lengkap ada 1 (20.0%) responden yang mengalami flebitis.
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P = 0.005 kecil dari 0.05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara persiapan alat dengan terjadinya flebitis. Dari hasil analisis didapatkan nilai OR = 0.037 artinya responden yang memakai infus berpeluang mengalami flebitis 0.037 kali jika persiapan alatnya tidak lengkap dibandingkan dengan responden yang persiapan alatnya lengkap     
5.         SARAN
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan atau pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang lebih baik dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan ditempat peneliti bertugas

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Azrul, 1986.Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
Candra, Budiman, 2007.Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC.
Ediyono, Setijati H, 1999.Prinsip-prinsip Lingkungan dalam Pembangunan yang Berkelanjutan. Jakarta : DEPDIKBUD.
Fardiaz, Srikandi, 200.Polusi Air & Udara. Yogyakarta : Kanisius.
Hardjowigeno, Sarwono, 2003.Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo.
Notoatmodjo, Soekidjo, 200.Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Pandu, Yudha, 2006.Undang-undang RI No. 23 tentang kesehatan. Jakarta : Indonesia Legal Center.
Salmariza, dkk, 2005Penggunaan Sistem Flanzenklaranlage untuk meminimalisasi Limbah Cair.  Padang : Laporan hasil penelitian pengembangan teknologi industri
Setiawan, Ahmad Soleh, 2007.Wetland di akses dari http : // www. info@lib.itb.ac.id
Soejono, 1996. Hukum Lingkungan dan Peranannya dalam Pembangunan. Jakarta : Rineka Cipta.
Soeparman & Soeparmin, 2001.Pembuangan Tinja & Limbah Cair. Jakarta : EGC.
Soerjani dkk, 1987.Scirpus grossus di akses dari http : // www.fao.org.
Slamet, Juli Soemirat, 2004.Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University
Suriawiria, Unus, 1996.Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang sehat. Bandung : Alumni.
Wardhana, Wisnu Arya, 2004.Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : ANDI
Wijayanti, 2004.Constructed Wetland diakses dari http : // www. Wikipedia. com